Koleksi Foto Lintang Ayu, Foto lucu, Foto anak, gambar anak, gambar lucu. Belajar Fotografi, Teknik Fotografi, Cara Membuat Foto Bagus, Mendapatkan Penghasilan Dengan Jual Foto Online, Informasi sekitar Digital Stock Photography – Online Stock Photography

Tampilkan postingan dengan label Teknik Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik Fotografi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 26 Januari 2010

Focal Length – berapa meter jangkauan yang dicapai sebuah lensa?

Focal Length, berapa meter jangkauan yang dicapai sebuah lensa? Barangkali ini yang seringkali ditanyakan oleh para penghobi fotografi seperti saya. Pertanyaan yang lebih spesifik lagi misalnya adalah: “Dengan lensa 70-200mm, berapa meter maksimal jarak sebuah obyek ke foto?”, Pertanyaan seperti ini pasti sudah sangat umum sekali. Namun, yang perlu diluruskan di sini adalah, pada prinsipnya semua lensa tidak memiliki batas maksimal jarak yang bisa dicapai alias batasnya adalah tak terhingga (infinity). Pertanyaan yang sebenarnya lebih tepat adalah “Berapa meter jarak maksimal yang bisa dicapai lensa 70-200 sehingga obyek yang difoto dapat memenuhi frame?”. Istilah kerennya adalah seberapa besar obyek bisa masuk ke dalam field of view atau bidang pandang yang tampil pada view finder kamera.

Nah, kalau pertanyaannya seperti ini mungkin lebih mudah menjawabnya karena masing-masing lensa memiliki batasan masing-masing terkait dengan panjang fokus (focal length). Jadi, misalnya kita memotret obyek yang sama dengan dua lensa, katakanlah obyek pada jarak 10 meter dengan focal length lensa 17mm tentu hasilnya akan berbeda dengan pada saat kita menggunakan lensa dengan focal length 200mm.

Untuk mendapatkan gambaran yang tepat tentang ini, ada sebuah simulasi yang disediakan oleh website tamron, dimana pada simulasi tersebut kita bisa membayangkan kira-kira dengan jarak tertentu, berapa kemampuan sebuah lensa, atau jika kita menggunakan sebuah lensa, berapa jarak yang bisa dicapai untuk menghasilkan gambar penuh di dalam frame.

Kebetulan saya mempunyai contoh foto menggunakan lensa EF 70-200 f/4L. Pada foto berikut ini, 1 obyek saya ambil menggunakan 2 focal length yang berbeda yakni pada 70mm dan 200mm. Jarak antara saya dan obyek kira-kira s.d 10 meter. Saya kurang tahu pastinya, tapi yang jelas pada saat itu saya berada di seberang jalan 2 jalur yang bisa menampung 4 mobil sekaligus.

Belajar Ilmu Foto, Teknik Fotografi,

@70mm, f/5.6, 1/250sec, ISO-400

Belajar Ilmu Foto, Teknik Fotografi,

@200mm, f/5.6, 1/200sec, ISO-400.

Nah, dari kedua foto di atas dapat dibayangkan kira-kira berapa perbesaran yang bisa dicapai oleh sebuah lensa 70-200mm.

Secara keseluruhan, pilih DSLR Canon ato Nikon?

Barusan ada pembahasan di forum tentang pemilihan kamera digital antara Canon vs. Nikon dilihat dari sisi investasi secara keseluruhan. Seperti kita ketahui, pada saat kita memutuskan untuk membeli sebuah kamera DSLR, sudah barang tentu prosesnya tidak hanya akan berhenti pada pembelian kamera saja (body+lens kit). Pada awalnya mungkin dorongan untuk upgrade, nambah alat, aksesoris tidak begitu besar.. tetapi seiring dengan bertambahnya pengalaman, ilmu, pertemanan, dan baca-baca, kadang dorongan ini menjadi semakin kuat dan bahkan tidak bisa terbendung lagi. Sehingga, anggaran dana pembelian kamera yang pada mulanya hanya terbatas untuk body + lens kit akhirnya harus berubah total menjadi keseluruhan investasi yang bisa dibilang tidak murah.

Nah, kebetulan teman tadi mempunyai rencana untuk melakukan investasi secara total yaitu mulai pembelian body + kit, lensa tambahan, aksesoris, lighting, dan lain-lain. Saya sendiri kurang begitu tahu apa latar belakang pemilihan yang dia lakukan, tetapi dia hanya menekankan pada nilai ekonomis dari keseluruhan investasi yang akan diperoleh jika membeli kamera DSLR Canon atau Nikon.

OK, sekarang langsung saja kita bahas secara singkat. Di sini saya akan menguraikan tentang perkiraan anggaran yang harus dikeluarkan untuk investasi keseluruhan untuk bermain-main dengan kamera digital. Namun, kali ini uraian ini saya batasi pada 3 komponen utama yaitu body, lensa dan lighting. Pemilihan jenis kamera juga saya batasi antara entry level dengan semi pro, dan saya tidakakan mengutak-atik seri kamera full frame atau profesional.

Langsung saja, untuk entry level, di sini ada Canon EOS 450D dan Nikon D60. Dari sisi harga, 450D + lensa kit 18-55is + memory 4g dibanderol dengan harga Rp 8,295,000 dan D60 + lensa 18-55mm VR dibanderol dengan harga Rp 7,125,000. Selanjutnya, untuk semi, ada Canon EOS 50D dan Nikon D300. Dari sisi harga, 50D body only dibanderol dengan harga Rp 14.325.000 dan D300 dibanderol dengan harga Rp 18.949.900. Sekilas di situ terlihat jelas perbedaan harga-harga meski sebenarnya antara keempat lensa itu tidak bisa dibandingkan secara head to head karena masing-masing punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya di sini tidak ingin berpihak pada sisi manapun, hanya memberikan gambaran kasar saja bagi yang ingin membeli kamera DSLR, dari kedua merk Canon dan Nikon, keempat kamera tersebut adalah yang bisa dijadikan pilihan.

Berikutnya, pertimbangan masalah lensa. Seperti diketahui, di dalam fotografi peranan lensa sangat penting karena melalui lensa inilah proses penangkapan gambar oleh sensor kamera bisa terjadi. Banyak yang mengajurkan untuk membeli body kamera entry level yang tidak terlalu mahal (misalnya antara memilhi EOS 450D vs. EOS 1000D) tapi dikompensasi dengan pembelian lensa yang premium. Nah, terkait dengan perhitungan total keseluruhan investasi, berikut ini adalah gambaran yang dapat saya ulas, meski sedikit semoga dapat membantu.

  • untuk lensa wajib 50mm f/1.8 untuk nikon harganya di kisaran Rp 1.2jt, untuk canon harganya di kisaran Rp 1jt
  • untuk lensa wide kelas menengah untuk Nikon ada 16-85mm seharga Rp 6,4jt, dan untuk Canon ada 17-85 mm seharga Rp 6,8jt.
  • untuk lensa wide kelas premium untuk Nikon ada 14-24mm f/2.8G ED (1.7x) AF-S seharga Rp 17,7jt, dan untuk Canon ada 16-35mm f/2.8L II USM seharga 17,3jt
  • untuk lensa makro Nikon AFS 105mm f/2.8 VR DX Micro G ED harganya 9,045,000 sedangkan EF 100mm f/2.8 Macro USM Harganya RP 6,4jt.
  • untuk lensa tele kelas premium nikon 70-200mm f/2.8G IF ED AF-S VR 18,jt, untuk canon ada 3 macem tapi berhubung di sini saya adalah pemakai Canon, saya jadi kurang tahu pasti mana yang patut disandingkan dengan lensa Nikon. Lensa tersebut adalah: 70-200mm f2.8 L USM seharga Rp 14,4jt; 70-200mm f2.8 L IS USM seharga Rp 21,2jt; 70-200mm f4 L USM 8,1jt; 70-200mm f4 L IS USM Seharga Rp 13,1jt.

Berikutnya ada lighting (flash). Lightingnya (flash external) untuk kedua kamera in berada di kelas medium, karena sifatnya portable.

Untuk Canon, ada :
Canon Speedlite 430 Ex II Flash Light 2.859.800
Canon Speedlite 580 EX II Flash Light 4.895.800
Untuk Nikon, ada:
Nikon SB 600 2.290.000
Nikon SB 800 3.450.000

Berikutnya, dari uraian di atas, kita ambil 1 sampel saja. Tarolah entry level yaitu 450D vs. D60. Kalo di itung-itung dari kebutuhan total kedua merk di atas, hasilnya adalah sebagai berikut.

Canon

Canon EOS 450D – kit 8,295,000
Lensa wajib 50mm 1,000,000
Lensa wide premium 17,300,000
Lensa Fix Macro 6,400,000
Lensa Tele premium 21,200,000
Flash 4,895,000
total 59,090,000

Nikon

Nikon D60 – kit 7,125,000
Lensa wajib 50mm 1,200,000
Lensa wide premium 17,700,000
Lensa Fix Macro 9,045,000
Lensa Tele premium 18,000,000
Flash 3,450,000
total 56,520,000

Selisihnya sekita 4-5jtan. Namun harus diingat, harga-harga di atas adalah pedoman kasar yang belum tentu sesuai dengan harga di lapangan.

Nah, sekarang tinggal kembali ke kejelian dan kebijakan pembaca sekalian dalam menentukan pilihan. Sekali lagi, tulisan ini bukan bermaksud memicu brandwar karena masing-masing merk (Canon vs. Nikon) punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, baik dari sisi teknologi, fitur, kenyaman penggunaan dan lain-lain. Uraian di sini hanya memperhitungkan pilihan dari sisi nilai ekonomis saja.

Selasa, 12 Januari 2010

Dapatkan Stok Foto Tekstur Gratis Di Texturevault

Dapatkan Stok Foto Tekstur Gratis Di Texturevault. Bagi seorang web designer atau graphic designer yang memerlukan stok tekstur sebagai background atau karya kreatif masing-masing, anda bisa dapatkan secara GRATIS di Texturevault.

Texturevault menyediakan foto tekstur berkualitas yang didukung oleh komunitas yang mengirimkan stok foto mereka. Anda sebagai member dapat mengirimkan serta menjual stok foto tekstur anda, serta anda dapat mendownload tekstur dengan gratis khusus untuk gambar dengan kualitas menengah, biasanya kualitas menengah digunakan untuk artikel atau blog. Bagi yang membutuhkan kualitas tinggi, anda cukup membayar $2 atau $4 untuk kualitas premium/High Quality Textures.

Daftarkan diri anda untuk mendapat akun gratis serta mendapat fitur "add to lightbox", rating tekstur, komentar, dan masih banyak lagi.

Bagi anda seorang fotografer, anda juga dapat mencari uang dengan cara meng-upload foto tekstur anda dan menjualnya serta mendapat 60% dari nilai penjualan foto anda.

Bagi pekerja affiliasi, silahkan mereferral website Texturevault dan anda akan mendapat 10% komisi untuk setiap referral yang masuk kualifikasi.

Website Texturevault dapat diakses di http://www.texturevault.net/





10 Tips for Shooting for Graphic Textures

Remnant Productions has ten tips for photographers to hone their texture skills:

1. Use side light: Side light will always bring out more significant texture than direct lighting.

2. Don’t get too fancy, but shoot with an angle. Remember that there is always a place for the seemingly unoriginal texture of dirt, but don’t be afraid to shoot that dirt from a variety of different angles and positions.

3. Remember that while the image is an essential piece of the work, it is not the only piece. Think about how well the image will blend with text, other images, and layout.

4. Shoot with the highest resolution possible. Graphic artists may take your image and magnify it to emphasize the texture in a piece. This is not possible if your image is low quality.

5. Shoot in unexpected places. Dumps and recycling facilities have a surprising amount of easy-to-spot textures. Metal, wood, plastics, rust – and all in a variety of conditions. These textures are invaluable to graphic artists.

6. Pay attention to color. Graphic artists pay special attention to color theory. As color communicates powerfully in design, be sure to do everything possible to unify the color schemes to your image, and make the color as vivid and vibrant as possible.

7. Look to the skies. A vivid blue sky or dark and stormy clouds always have a place in a graphic artists’ texture library. As these horizon images are often used as backgrounds, be sure to capture in a maximum resolution size.

8. Be a team player. If a graphic artist requests a shot, do whatever you can to understand exactly what he is looking for. Don’t complain if the shot you come back with doesn’t work. Always be willing to go back out and try again.

9. Specifically go for lack of detail. You don’t want a lot of variation in color or pattern. Keep it simple.

10. Shoot your textures in a series. Find a good patch of concrete? Get a series of that concrete in a variety of different places, angles, and position. Then you can offer it as a package.











Need high quality textures?
Visit texturevault.net for high quality royalty free texture images. Thousands of premium textures available at your fingertips.



10 Tips for Shooting for Graphic Textures


Remnant Productions has ten tips for photographers to hone their texture skills:

1. Use side light: Side light will always bring out more significant texture than direct lighting.

2. Don’t get too fancy, but shoot with an angle. Remember that there is always a place for the seemingly unoriginal texture of dirt, but don’t be afraid to shoot that dirt from a variety of different angles and positions.

3. Remember that while the image is an essential piece of the work, it is not the only piece. Think about how well the image will blend with text, other images, and layout.

4. Shoot with the highest resolution possible. Graphic artists may take your image and magnify it to emphasize the texture in a piece. This is not possible if your image is low quality.

5. Shoot in unexpected places. Dumps and recycling facilities have a surprising amount of easy-to-spot textures. Metal, wood, plastics, rust – and all in a variety of conditions. These textures are invaluable to graphic artists.

6. Pay attention to color. Graphic artists pay special attention to color theory. As color communicates powerfully in design, be sure to do everything possible to unify the color schemes to your image, and make the color as vivid and vibrant as possible.

7. Look to the skies. A vivid blue sky or dark and stormy clouds always have a place in a graphic artists’ texture library. As these horizon images are often used as backgrounds, be sure to capture in a maximum resolution size.

8. Be a team player. If a graphic artist requests a shot, do whatever you can to understand exactly what he is looking for. Don’t complain if the shot you come back with doesn’t work. Always be willing to go back out and try again.

9. Specifically go for lack of detail. You don’t want a lot of variation in color or pattern. Keep it simple.

10. Shoot your textures in a series. Find a good patch of concrete? Get a series of that concrete in a variety of different places, angles, and position. Then you can offer it as a package.

Read more: http://digital-photography-school.com/10-tips-for-shooting-for-graphic-textures#ixzz0cOvpPEPQ
Minggu, 10 Januari 2010

Fotografi Indonesia, Teknik Fotografi, Belajar fotografi, Photography

Fotografi Indonesia, Teknik Fotografi, Belajar fotografi, Photography, Cara membuat foto bagus

Contoh Foto Tidak Laku Dijual, BigStockPhoto Upload Status

Contoh Foto Tidak Laku Dijual, BigStockPhoto Upload Status.

Membuat foto bagus memang agak susah bila menggunakan kamera digital biasa (Canaon IXY Digital 700). Foto ini tidak diterima oleh BigStockPhoto.com
Jual Beli Foto, Teknik Fotografi, Lintang Ayu,

Alasannya : Reason: Artifact Problems: Noise/Grain/Chromatic or other artifacts due to low light, blue or purple fringing, high ISO, over-sharpening or post processing techniques. Please view image at 100% prior to submission

Memang harus banyak belajar untuk bisa menjual foto di internet.
Sabtu, 09 Januari 2010

Teknik Fotografi, High Dynamic Range, Astrophotography, Ghost effect

Teknik Fotografi, High Dynamic Range, Astrophotography, Ghost effect

Ghost effect

Saya coba kasi contoh effek "ghost" trail dengan menggunakan normal flash dan Rear Sync flash.

Data:

  • FL = 50mm
  • F-Number = F/3.2
  • Exposure Time = 1/3 sec.
  • ISO speed = 200
  • Handphone digerakkan dari kiri ke arah kanan.

Berikut hasil dengan normal flash: (terlihat objek yang ditangkap "ketinggalan")

Teknik Fotografi

Berikut hasil dengan Rear Sync: (Hasil yang benar, objek di depan, dan bayangan di belakang)

Teknik Fotografi

Dengan menggunakan Rear Sync maka effect Ghost Trail dihasilkan dengan benar.


Zoom Burst

Teknik ini adalah dengan memanfaatkan long shutter antara 1/20 sampai 1/60 dengan menempatkan focal range ke maksimal, kemudian setelah shutter dilakukan, zoom ring lensa dikurangi ke range kecil.

Teknik Fotografi


High Dynamic Range

High Dynamic Range atau sering disebut HDR merupak teknih fotografi untuk mendapatkan objek gelap dan terang sehingga menghasilkan kesan dynamic range. Secara umum untuk menghasilkan foto HDR adalah dengan mengambil suatu objek dengan tingkat exposure yang berbeda-beda, kemudian gambar tersebut digabungkan. Untuk menjaga agar pengambilan gambar yang konstan sebaiknya menggunakan tripod atau continous shoot.

Teknik Fotografi

High Dynamic Range

Astrophotography

Ini merupakan tipe photography yang mengkhususkan dalam mengambil objek-objek astronomi di langit seperti bulan, matahari, bintang, dan objek langit lainnya.

Teknik Fotografi

solar eclipse tanggal 26 januari 2009

Bokeh

Ini merupakan salah satu teknik fotografi untuk menghasilkan efek back atau front image yang blur.

Foto yang bokeh dapat dihasilkan dengan menggunakan 3 pendekatan ini:

1. Bukaan besar dari lensa (large arperture)

2. Penggunaan lensa macro

3. Penggunaan lensa tele photo

Teknik Fotografi

Bokeh dengan penggunaan lensa macro

Joko Catur Teknik Fotografi

Teknik Fotografi, metering, tips, white balance

Teknik Fotografi, metering, teknik fotografi, tips, white balance.

Putih sebagai Standar Warna

Mungkin ada yang pernah memotret obyek, kemudian menyadari bahwa kamera merekam warna yang salah. Warna merah berubah menjadi jingga, atau hijau menjadi kuning. Ini mungkin disebabkan oleh kesalahan kamera dalam memilih warna putih.
Kamera sebenarnya tidak benar-benar mengenali warna. Yang ditampilkan oleh kamera adalah seberapa jauh perbedaan frekuensi cahaya pantulan dari suatu obyek terhadap suatu frekuensi cahaya lain yang menjadi standar pembanding. Pemahaman mengenai proses reproduksi warna ini sangat penting dalam fotografi yang meemerlukan tingkat akurasi warna tinggi, misalnya dalam foto produk, warna kain, grafis cahaya, dsb.
Berikut ini adalah foto dari obyek yang sama, dipotret dengan beberapa mode white Balance yang berbeda:
Teknik Fotografi

Auto White Balance

Teknik Fotografi, metering, teknik fotografi, tips, white balance.
Warna putih dipilih sebagai standar pembanding karena warna ini bersifat netral. Pada kondisi cahaya berfrekuensi lengkap, warna putih akan memantulkan semua frekuensi cahaya, sehingga obyek berwarna putih adalah obyek yang memantulkan cahaya dengan intensitas paling tinggi. Namun karena sifatnya yang netral, putih akan merah jika diterangi oleh lampu berwarna merah, tampak biru di bawah cahaya lampu biru, dan seterusnya. Berdasarkan kondisi tersebut, Auto-WB pada kamera diatur untuk mengenali 'pantulan obyek dengan intensitas tertinggi' dan menggunakannya sebagai standar warna 'putih' untuk melakukan koreksi warna.
Akibatnya, pada kondisi-kondisi tertentu, kamera dapat mereproduksi warna yang keliru karena tidak ada benda berwarna putih pada obyek yang ditangkapnya. Dalam kondisi ini diperlukan kecermatan fotografer untuk membantu kamera melakukan koreksi warna.

Preset White Balance


Untuk melakukan koreksi warna, biasanya tersedia beberapa pilihan Preset WB pada kamera digital. Misalnya:
  • Fine, digunakan pada kondisi pemotretan outdoor siang hari dengan kondisi cahaya matahari terang
  • Shade,atau dalam beberapa tipe disebut Cloudy digunakan pada kondisi pemotretan outdoor dengan kondisi matahari terhalang atau tertutup awan
  • Fluorescent, digunakan untuk pemotretan dalam ruang dengan pencahayaan lampu neon
  • Incandescent, digunakan untuk pemotretan dalam ruang dengan pencahayaan lampu pijar/ tungsten

Pada dasarnya, urutan dari Fine sampai ke Incandescent didasarkan pada perbedaan suhu dari setiap warna cahaya. Penjelasannya akan disampaikan di bawah.

Kelvin White Balance


Kelvin WB, biasanya terdapat pada kamera DSLR profesional, didasarkan pada pemahaman fisika bahwa benda dengan suhu tertentu akan memancarkan cahaya dengan frekuensi tertentu pula. Cahaya matahari dipancarkan oleh benda dengan suhu 5500K. Lampu neon memiliki suhu 4000K, lampu pijar 3000K.
Kesalahan dalam pengaturan derajat Kelvin akan menghasilkan warna yang keliru. Patokannya:
  • Jika foto yang dihasilkan berwarna kebiruan, berarti setting temperatur terlalu rendah
  • Jika foto yang dihasilkan berwarna kekuningan, berarti setting temperatur terlalu tinggi


Custom White balance


Pemilihan pengaturan WB dengan Preset atau kelvin mungkin dianggap ribet saat fotografer tidak bisa memutuskan setting yang tepat. Beberapa kamera dilengkapi dengan pilihan Custom WB sebagai alternatif terakhir. Pada setting ini, kamera digunakan untuk memotret dan merekam warna yang dijadikan standar putih, dan selanjutnya warna ini akan digunakan untuk melakukan koreksi warna untuk obyek yang lain. Jadi fotografer cukup mengantongi selembar karton putih sebagai standar jika sewaktu-waktu diperlukan.
Uniknya, dengan cara ini, bisa digunakan warna lain selain putih sebagai standar, sehingga dapat dihasilkan 'false color' - kesalahan tonal warna yang disengaja untuk mendapatkan mood bagi sebuah foto. Misalnya untuk memperoleh kesan 'hangat' foto dibuat bernuansa kekuning-kuningan. Sebaliknya, untuk memperoleh kesan 'dingin' foto dibuat bernuansa kebiru-biruan.

Lalu seperti apa sebenarnya warna obyek yang saya potret di atas?
Dengan Custom WB pada sebuah karton putih, ini hasilnya:
Teknik Fotografi, foto bagusTeknik Fotografi, metering, teknik fotografi, tips, white balance.
Joko Catur Teknik Fotografi

CARA MEMBUAT FOTO BAGUS

BAGAIMANA SIH CARA MEMBUAT FOTO BAGUS ?

Earn Money Selling Photos on the Internet. Online stock agencies: dreamstime.com
featurepics.com
bigstockphoto.com
123rf.com
Pertama-tama sebelum memasuki pembicaraan tentang fotografi dan cara membuat foto yang bagus, maka kita harus menyepakati arti kata bagus itu dulu. Pengertian bagus sangatlah subyektif dan relatif. Karena bagus bagi seseorang belum tentu bagus bagi yang lain. Meskipun demikian, ada benang merah yang bisa kita terapkan untuk mendasari kita menilai sebuah foto.


Dasar penilaian obyektif dalam menilai sebuah foto adalah teknik-kreatif-komunikatif.


Persoalan teknik menjadi pondasi penciptaan karya foto.

Jika kita melihat sebuah foto tidak fokus, maka foto tersebut tidak bisa kita sebut bagus. Jika pencahayaannya kurang (under exposure), maka secara teknik juga jauh dari bagus. Masalah fokus, pengukuran exposure, pemilihan lensa, kesalahan pemilihan resolusi image, ISO tidak tepat, white balanced menyimpang, dan persoalan lain seputar pengoperasian kamera, adalah ketrampilan penguasaan teknik. Dalam hal ini seorang fotografer harus menguasainya dan menjadi basic atas ketrampilan berikutnya.

Masih di wilayah teknik, adalah penguasaan ketrampilan menata lighting. Fotografi tanpa lighting bukanlah fotografi. Cahaya dibutuhkan fotografer seperti kebutuhan pelukis atas cat atau tinta. Menurut akar katanya, fotografi adalah melukis dengan cahaya. Tidak ada cahaya, fotografer tidak bisa memotret.


Fotografi mau tidak mau adalah salah satu media bagi bahasa komunikasi visual yang masuk dalam khasanah seni rupa. Dengan kamera dan cahaya, seorang fotografer mengungkapkan ide, gagasan dan pesan kreatifnya. Ungkapan kreatif-artistik tersebut dapat terwujud dengan baik, jika penempatan obyek di dalam viewer tertata baik komposisinya. Penataan komposisi ini menjadi basic atas hasil sebuah foto terlihat indah atau tidak. Penataan komposisi yang tidak tepat menjadikan sebuah foto kehilangan gregetnya.


Adalah omong kosong belaka jika belajar fotografi hanya dengan menguasai teorinya saja dengan tidak pernah melakukan pemotretan. Kesempurnaan hanya dapat dicapai dengan banyak latihan. Latihan terbaik adalah memotret. Bawalah kamera kemanapun kita pergi. Potretlah apa pun yang menurut kita layak kita potret. Lakukan pemotretan dengan dasar-dasar teori yang pernah dipelajari. Lakukan pemotretan dengan jangan asal jepret. Sebelum memotret lakukan pengamatan terlebih dahulu.

Lihat, amati, pertimbangkan, arahkan kamera, pilih mode operasional kamera yang sesuai, tunggu saat yang tepat, baru jepret. Pemotretan yang asal jepret akan menghabiskan kapasitas memory card. Selain itu juga akan menjadikan kita sibuk setelahnya, karena akan banyak foto yang akan kita delete. Belum lagi dengan usia kamera yang makin menyusut, karena pemakaian yang berlebihan.

Setelah kita menguasai teknik operasional kamera, lighting, dan komposisi, maka kita tidak akan kesulitan untuk mencoba berkata-kata dengan bahasa fotografi. Masalah teknik adalah tata bahasa. Foto adalah media komunikasi visual. Untuk dapat menguasai bercerita dengan foto maka kita harus menguasai tekniknya dulu. Jika belum apa-apa kita pengin ngomong dengan fotografi padahal kita belum mengerti tekniknya, maka kita berlaku seperti anak kecil yang baru belajar ngomong dan mengeluarkan semua kata yang dikuasainya. Akibatnya, orang lain pun tidak mengerti maksud dari si anak tadi.


Oleh karena itu, belajar teknik adalah mutlak perlu. Belajarlah secara bertahap. Step by step. Jangan tergesa-gesa melangkah ke anak tangga berikutnya jika anak tangga terbawah belum dijejak. Bila memaksa diri maka kita akan menjadi frustrasi dan akan kehilangan kenikmatan melalui proses pembelajaran yang benar. Pelatihan fotografi membutuhkan proses. Belajar fotografi membutuhkan pemahaman teori dan pengendapan rasa. Meskipun tidak ada cara instan belajar fotografi, namun ada cara mudah mencapainya.

Cara termudah belajar fotografi adalah dengan dipandu fotografer senior yang menguasai cara mengajar dengan benar. Banyak fotografer hebat, namun belum tentu hebat ketika mengajarkan ilmunya.

Belajar fotografi bisa secara otodidak, namun akan membutuhkan waktu yang lebih lama dan tidak ada yang mengevaluasi atau membetulkan jika kita salah. Cara termudah adalah dengan bimbingan fotografer lain.

Hanya masalahnya apakah kita dapat mengganggu fotografer senior dengan pertanyaan-pertanyaan kita kapan pun kita mau? Tentu saja tidak! Oleh karena itu pilihlah pembimbing yang memang meluangkan waktunya untuk membimbing pemula. Pilihan terbaik hanyalah melalui kursus fotografi online. Kapan pun kita punya masalah, kita bisa melayangkan email dan meminta penjelasan. Simple dan flexible.

Menjadi seorang fotografer adalah masalah pilihan. Kita mau menjadi fotografer yang mampu membuat foto-foto cantik atau cukup puas dengan foto-foto asal jepret. Jika kita ingin membuat foto indah maka kita harus belajar dengan melalui tahapan tadi. Bila kita hanya ingin memotret dengan asal jepret, maka Anda membuang waktu dengan membaca artikel ini

Tempat Saya Biasa jual Foto, Anda juga bisa ikut jual foto dengan syarat fotonya Bagus,tak ada salahnya bila mencoba :
dreamstime.com
featurepics.com
bigstockphoto.com
123rf.com

Jumat, 08 Januari 2010

Model Release, Untuk apakah Model Release itu ????

Model Release
Ceritanya ada seorang temen yang bertanya tentang Model Release. sekalian aja, aku coba share disini, walaupun sebenernya udah banyak banget thread mengenai Model Release..
Aku punya pertanyaan seputar Model Release ini....

1. Bagaimana layout model release?
2. Apa yang diperlukan untuk membuat model release? hanya nama & nomor telpon serta ttd sajakah?
3. Foto yang bagaimana yang memerlukan model release? foto sang model berjumlah 1 org? jika lebih dari 1 apakah harus semuanya dimintakan model release? berapa jumlah maksimalnya yang tidak memerlukan model release?
4. Jika modelnya masih anak kecil, apa perlu dimintakan model release juga? jika bayi?
5. Jika yang difoto adalah orang yang sudah meninggal, perlukah model release lagi?
6. Jika mukanya tidak jelas, misal hanya 1/2 muka dan agak berbayang, perlu model release kah?
7. Jika seorang bapak2 yang sudah sangat tua yang mungkin sudah manula sekali dan tidak dapat diajak bicara/menulis, bagaimana memintanya sebagai info nama/no telp dan ttdnya?

Akhir kata saya bertanya sederhana pula..... Untuk apakah Model Release itu????

Mohon pencerahannya...salam hangat....maklum, saya hanya pemotret yang sangat pemula dan kurang mengerti mengenai hal ini.


ok.. kita mulai..

Pertama tama, apa sih model release itu..
Model Release itu adalah suatu surat izin penggunaan foto dari model atau orang yang foto dirinya tercantum di sebuah karya foto.

Lalu, untuk apa model release?

coba kita perhatikan cuplikan UU Hak Cipta ini :
Pasal 19
1.Untuk memperbanyak atau mengumumkan Ciptaannya, Pemegang Hak Cipta atas Potret seseorang harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari orang yang dipotret, atau izin ahli warisnya dalam jangka waktu 10 (sepuluh tahun) setelah orang yang dipotret meninggal dunia
2. Jika suatu Potret memuat gambar 2(dua) orang atau lebih, untuk Perbanyakan atau Pengumuman setiap orang yang dipotret, apabila Pengumuman atau Perbanyakan itu memuat juga orang lain dalam potret itu, Pemegang Hak Cipta harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari setiap orang dalam Potret itu, atau izin ahli waris masing-masing dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah yang dipotret meninggal dunia.

Pasal 20
Pemegang Hak Cipta atas potret tidak boleh mengumumkan potret yang dibuat:
a.Tanpa persetujuan orang yang dipotret;
b.Tanpa persetujuan orang lain atas nama yang dipotret; atau
c Tidak untuk kepentingan orang yang dipotret,
apabila Pengumuman itu bertentangan dengan kepentingan yang wajar dari orang yang dipotret, atau dari salah seorang ahli warisnya apabila orang yang dipotret sudah meninggal dunia

nah.. dalam undang2 itu... kita harus mempunyai ijin untuk publikasi karya kita apabila memuat objek berupa orang. Kalau kita melanggar, kita bisa terkena tuntutan.. (untuk lebih lengkapnya coba cari UU Hak Cipta)

Model Release adalah sebuah surat izin penggunaan foto dari model atau orang yang foto dirinya tercantum di sebuah karya foto untuk mengatasi klausul dalam UU Hak Cipta tersebut...


Bentuk Model Release seperti apa..
Intinya, Model Release itu adalah sebuah surat pernyataan, jadi bentuknya bisa beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan. Kita bisa membuat model Release dalam berbagai bentuk... Tapi sebisa mungkin buatlah yang praktis agar tidak menyulitkan kita dalam meminta objek foto menandatangani Model Release tersebut..


Apakah Model Release itu hanya untuk Foto Model ?
Tidak! bukan cuma foto model yang perlu model release. Buat Teman Teman yang suka sama human interest sebaiknya menggunakan Model Release agar foto karyanya bisa di publikasi tanpa mengalami masalah hukum..


Apakah model Release hanya berguna jika fotonya mau di publikasi?
Kalau misalnya fotonya cuma ditaruh hardisk, sepertinya model release tidak diperlukan, Tapi jika untuk pameran, lomba, ataupun komersial, model release sangat diperlukan. Ingat kasus jaman dulu? Sebuah Perusahaan Komunikasi, dimana Perusahaan itu menggunakan foto karyawannya untuk iklan dan kartu telponnya. Perusahaan itu akhirnya harus membayar tuntutan dari model bekas karyawannya yang fotonya digunakan untuk iklan tersebut. Masih banyak juga kasus yang terjadi akibat tidak digunakannya Model Release tersebut.


Apakah fotografer harus membayar agar model/objek menandatangani Model Release?
Jawabnya Tergantung. tergantung dari negosiasi kita. Jika untuk model yang dibayar, kita tentunya harus membicarakan dari awal untuk apa foto yang kita buat dan penggunaannya kelak. Modelpun wajib menandatangani model release karena kita sudah memberikan mereka kompensasi.

Sedangkan untuk foto2 yang kita ambil secara iseng (misalnya street hunting) gak ada salahnya kita basa basi dengan sang objek... Negosiasi dengan komunikasi yang baik bisa membuat objek foto bersedia menandatangani model release.


Kalau misalnya kita ikuta acara hunting apakah kita masih perlu Model Release?
Umumnya kalau untuk acara hunting komersial seperti yang sering diadakan teman teman di FN, foto foto masih bisa digunakan untuk portofolio, tapi kalau misalnya kita bisa meminta model menandatangani form Model Release, maka kemungkinan kita menggunakan foto itu untuk keperluan komersial atau lainnya akan terbuka. Tapi ingat, kalau untuk kepentingan komersial bukan saja Model Release dari model, melainkan juga izin dari lokasi, dan sebagainya diperlukan untuk menghindari hal hal yang tidak enak dikemudian hari..
Joko Catur Teknik Fotografi